Senin, 09 Januari 2012

ANALISIS KESALAHAN DALAM BERBAHASA


KESALAHAN DALAM BERBAHASA

Essai yang berjudul “Pengarang yang Tumbuh di Tengah Konflik” karya Korrie Layun Rampan adalah sebuah kritik sastra. Kesimpulan tersebut berdasarkan pengertian kritik sastra itu sendiri dan aspek-aspek yang ada dalam kritik sastra. Dari pengertian kritik sastra sudah jelas bahwa kritik sastra adalah sebuah penghakiman terhadap sebuah karya sastra, penilaan baik atau buruknya sebuah karya sastra. Essai Korrie Layun Rampan ini sudah jelas melakukan penghakiman dan memberikan penilaian baik buruk terhadap cerpen “Komponis Tua” karya B. Soelarto. Kejelasan
tentang penghakiman dan penilaian baik buruk tersebut akan terungkap dalam pembahasan aspek-aspek kritik sastra yang akan dibahas.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas essai yang berjudul “Pengarang yang Tumbuh di Tengah Konflik” karya Korrie Layun Rampan adalah sebuah kritik sastra dinilai dari pengertian kritik sastra dan aspek-aspek kritik sastra.
          Adapun aspek-aspek kritik sastra adalah sebagai berikut:

1.Informasi umum tentang objek yang ditulis.
          Informasi umum ini sudah jelas ditulis dalam essai tersebut. Informasi tersebut menjelaskan bagaimana objek yang ditulis yaitu cerpen yang berjudul “Komponis Tua” adalah sebuah cerpen yang ditulis dengan teknik sketsa dengan gaya karikatural. Digambarkan juga bahwa cerpen tersebut membuat pembaca seperti memasuki sebuah latar dengan gambar-gambar yang hidup, dengan penciptaan suasana yang mewakili sebuah zaman pada situasi tertentu.

2. Analisis.
          Telaah yang dilakukan oleh Korrie sudah mewakili pembaca untuk memahami isi cerpen “Komponis Tua” karya B. Soelarto yang menggambarkan kehidupan dan peristiwa-peristiwa politik seputar zaman pemberontaan G30S/PKI yaitu perselisihan dua kubu besar pada zaman itu antara Lekra/PKI dengan tokoh-tokoh seniman dan budayawan. PKI mempertahankan ideologi realisme sosialis sedangkan tokoh seniman dan budayawan gigih dengan ideologi humanisme universal. Korrie menguraikan setiap bagian dan unsur cerpen “Komponis Tua” sehingga pembaca mampu ‘membaca’ situasi pada masa itu.

3. Interprestasi
           Korrie memberikan penafsiran terhadap cerpen “Komponis Tua” sebagai perlawanan terhadap tiran politik yang pada waktu itu menjadi kekuatan utama. Perlawanan B. Soelarto yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu sebagai akibat dari pelarangan segala bentuk karya seni, karya sastra dan segala bentuk hasil seni dan hasil budaya yang tidak mencerminkan ideologi realisme sosialis oleh Lekra. Dengan kekuatan sastra B. Soelarto terus melawan.

4. Penilaian
           Korrie Layun Rampan memberikan penialian terhadap cerpen “Komponis Tua” karya B. Soelarto sebagai cerpen yang mempunyai kekuatan dengan tema perlawanan dan optimisme. Cerpen yang memaparkan kehidupan politik dengan kekuasaan tirani tetapi tidak mampu mengalahan psikis para tokoh meskipun secara fisik dapat dibekuk.

2.) Jika dilihat dari bentuknya kritik sastra ini adalah kritik terapan atau praktek kritik karena           Korrie melakukan interprestasi terhadap cerpen “Komponis Tua” dan sekaligus menilai sastrawannya sendiri yaitu B. Soelarto dan menyebutkannya sebagai seorang penulis cerpen sketsa yang cukup kuat.

           Tulisan yang berjudul “Terobosan Baru Musikalisasi Puisi” karya Rani Purnamasari bukan merupakan kritik sastra tetapi mungkin lebih tepat jika dinamakan kritik musik atau kritik pentas. Objeknya sendiri adalah musikalisasi puisi yang memang sudah bisa dikategorikan sebagai bagian dari proses kreatif karya sastra. Sudah ada informasi tentang objek tersebut tentang kapan dan di mana, dan sebagainya. Begitu juga dengan interprestasi dan penilaian terhadap objek. Tetapi yang menjadi masalah, analisis yang dilakukan bukan terhadap musikalisasi puisi yang seharusnya mengupas bagaimana puisi itu dibawakan, tetang isi puisi itu serta hal-hal lain yang berkenaan dengan unsur-unsur karya, segi-segi karya yang seharusnya dikaji dan dijabarkan untuk memperoleh pemahaman pembaca. Contoh sederhananya begini, Rani menjelaskan bahwa dalam musikalisasi itu dibawakan puisi-puisi yang bernuansa duka. Kemudian musik yang disajikan pun selaras dengan suasana puisi dan intonasinya pun sesuai pula, dan sebagainya. Tetapi analisis yang dilakukan lebih ke persoalan teknis dari pementasan tersebut seperti tata letak lampu, komposisi personil serta sudut pandang atas penampilan musikalisasi tersebut, sama sekali tidak masuk ke wilayah yang berkenaan dengan puisi itu sendiri. Begitu juga dengan interprestasi dan penilaian yang dilakukan. Hal ini mungkin karena Rani lebih menitik beratkan analisis pada segi teknis maka interprestasi dan penilaian yang dilakukan pun hanya sebatas pada segi teknis dan petunjukan saja tida sampai pada pengkajian proses kreatif karya sastra. Kesimpulannya adalah, Rani Purnamasari menilai pementasan tersebut sebagai hiburan.

Kesalahan dalam Berbahasa

           Pengajaran bahasa merupakan hal yang sangat kompleks. Pengajaran bahasa dalam praktikya tidak akan lepas dari yang namanya kesalahn-kesalahan berbahsa. Kesalahan bahasa yang meliputi berbagai aspek ini adalah hal yang paling sulit untuk dapat dipahami oleh para pelajar atau pembelajar bahasa. Hal tersebut lebih dikarenakan karena perelu ketelitian yang sangat tinggi untuk dapat mengatasai segala kesalah-kesalahn berbahasa tersebut.

Pengajaran bahasa kini lebih banyak difokuskan pada kegiatan siswa belajar. Pengajaran bahasa yang berfokus pada kegiatan guru dalam mengajar telah lama dikritik banyak orang. Setiap ada kegagalan dalam belajar anak faktor penyebabnya selalu dicari pada guru dan pengatasannya pun selalu dilakukan dari sisi guru. Akibat cara berpikir seperti itu, kegagalan belajar bahasa anak selalu terjadi sepanjang zaman dan tidak pernah teratasi secara tuntas.

Analisis pengajaran bahasa dapat dilakukan berdasarkan pendekatan psikologis dalam belajar bahasa. Acuan teori psikologi yang dipakai sebagai dasar untuk menganalisis belajar bahasa antara lain psikologi behaviorisme, psikologi kognitivisme, dan psikologi mentalisme.

Teori analisis kesalahan berbahasa merupakan koreksi kritis terhadap teori konstratif, bahwa pengajaran bahasa mengkontraskan kedua sistem bahasa kadang-kadang tidak ada manfaatnya., dan hanya akan membuang-buang waktu saja. Analisis kesalahan berbahasa berasumsi bahwa pengajaran bahasa hendaknya lebih difokuskan pada frekuensi terbesar kesalahan berbahasa pembelajar. Penelusuran faktor-faktor penyebab kesalahan serta jenis-jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar jauh lebih penting karena dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memperbaiki kesalahan belajar dan kesalahan berbahasa pembelajar.
Berikut ini beberapa kesalahan berbahasa yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari :

1. Mistake (salah)
             Merupakan penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena penutur tidak mampu menentukan pilihan penggunaan ungkapan yang terjadi situasi dengan situasi yang ada.
Mistake/ kekeliruan, terjadi ketika seorang pembelajar tidak secara konsisten melakukan penyimpangan dalam berbahasa. Kadang-kadang pembelajar dapat mempergunakan kaidah/norma yang benar tetapi kadang-kadang mereka membuat kekeliruan dengan mempergunakan kaidah/norma dan bentuk-bentuk yang keliru.
Contoh :
”Rasanya panas. Kalau malam tidur di kamar, harus pakai kipas terus,” kata Nining.
Analisis : Kalimat rasanya panas untuk menggambarkan situasi udara yang panas adalah kurang tepat atau dapat dikatakan adanya kekurangtepatan penggunaan ungkapan terhadap situasi tersebut. Maka dari itu kalimat tesebut masuk dalam mistake. Seharusnya ungkapan tersebut meggunakan ungkapan ” Udaranya panas” agar lebih tepat.
• Dengan amblesnya tanggul tersebut, saat ini permukaan lumpur yang...
Analisis : penggunaan kata ambles dalam konteks tersebut adalah kurang tepat. Ungkapan tersebut masih sangat terpengaruh bahasa jawa.

2. Selip
            Merupakan penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat perhatian topik pembicaraan secara sesaat (kelelahan bisa menimbulkan selip bahasa). Dengan demikian selip bahasa terjadi secara tidak disengaja.
Kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh lapses tidak memiliki implikasi paedagogis yang berbahaya. Lapse, selip lidah, diartikan sebagai bentuk penyimpangan yang diakibatkan karena pembelajar kurang konsentrasi, rendahnya daya ingat atau sebab-sebab lain yang dapat terjadi kapan saja dan pada siapa pun.
Contoh :
• ” Menjual barang tidak bisa memaksa orang membeli,” ujar Fauzi Aziz
Analisis : Selip bahasa terjadi pada kalimat tersebut. Selip terjadi karena kekurangtepatan kalimat yang digunakan yaitu kata yang diucapkan kurang. Seharusnya kata tersebut mendapat tambahan satu kata lagi agar tidak termasuk dalam selip bahasa. Kata yang dimaksud adalah kata untuk. Akan menjadi tidak selip ketika diucapkan ” Menjual barang tidak bisa memaksa orang untuk membeli”.

3. Silap
         Merupakan penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa. Faktor yang mendorong timbulnya kesilapan adalah faktor kebahasaan yang mengikuti pola-pola tertentu.
Contoh :
• ”Semuanya sudah empat kali kejadian sama dengan yang sekarang ini.”
Analisis : Kalimat tersebut mengalami silap bahasa karena dalam kalimat tersebut terdapat kesalahan struktur dan kaidah kalimat dalam bahasa Indonesia yang benar. Kalimat tersebut akan bisa dikatakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar jika ” Semuanya sudah empat kali terjadi, termasuk yang sekarang ini.
• Lokasi kejadian jauh dari permukiman warga, ....
Analisis : Kata permukiman dalam kalima tersebutmengalami silap bahsa. Silap dalam kaliamt tersebut kemungkinan terjadi karena kekurangpahaman akan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Seharusnya kata permukiman diganti dengan kata pemukiman agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang benar atau tidak silap.
• Ayah dua anak itu seakan tidak memedulikan lumpur gas yang mnenyembur sekitar 20 meter dari warungnya.
Analisis : Kata dalam kalimat tersebut ada yang mengalami silap bahasa. Kata memedulikan tersebut seharusnya tidak digunakan dan diganti dengan kata memperdulikan.

4. Kalimat Rancu
            Adalah kalimat yang struktur atau bagianya ada yang rancu atau tidak sesuai penempatanya.
Contoh :
• Pemerintah pun mulai menggaungkan dukungan kepada industri kreatif.
Analisis : Kata menggaungkan secara makna kurang tepat atau rancu jka diterapakan dalam kalimat tersebut. Kata menggaungkan tersebut dapat diganti dengan kata ” menyampaikan, menyerukan dsb.
• Jalan Raya Porong yang terletak bersebelahan di sisi barat tanggul kolam lumpur terus menurun hingga 80 sentimeter sejak ditinggikan September 2008.
Analisis : Kalimat tersebut memiliki struktur yang rancu dan kurang bisa dipahami.

5. Kalimat Ambigu

            Merupakan kalimat yang memiliki makna lebih dari satu/ membingungkan/ ambigu.
Contoh :
• Menurut Emi, salah seorang pemilik ruko yang terbakar, gudang oli itu mulai beroperasi sejak dua tahun lalu.

            Analisis : Kalimat tersebut merupakan kalimat yang ambigu atau menimbulkan tafsir ganda. Letak keambiguan dari kalimat tersebut adalah kita dapat menafsirkan makna kalimat tersebut dalam dua versi makna yaitu Emi ikut terbakar atau Emi hanyalah salah seorang dari pemilik ruko yang ikut terbakar.
• Muncul ikhtiar untuk mengedepankan produk-produk budaya dan berbasis teknologi, memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak melalui pameran.
Analisis : Kalimat tersebut memiliki makna ganda atau ambigu. Keambiguan tersebut dapat kita rasakan ketika memaknai kalimnat tersebut. memvisualisasikanya kepada masyarakat atau banyak melalui pameran.

6. Adopsi
           Adalah mengambil semuanya dengan tidak mengurangi dan tidak menambahi.
Contoh :
• Amblesnya tanggul setinggi 11 meter itu......
Analisis : Kata meter merupakan kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris, yaitu meter.
• Menyusul tertangkapnya imigran asal Iran dan pakistan.
Analisis : Kata imigran merupakan kata hasil adopsi dari kata asing. Pengambilan yang dilakukan pada kata tersebut dilakukan secara utuh yaitu imigran.
• Kekurangan biaya sebagai dampak krisis keuangan global. .......
Analisis : Kata global adalah kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris. Kata tersebut diambil secara utuh untuk menyebutkan maksud yang sama.

7. Terjemahan
            Adalah interpretasi makna suatu teks dalam suatu bahasa ("teks sumber") dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain ("teks sasaran" atau "terjemahan") yang mengkomunikasikan pesan serupa. Terjemahan harus mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk konteks, aturan tata bahasa, konvensi penulisan, idiom, serta hal lain antar kedua bahasa.
Secara tradisional terjemahan merupakan suatu kegiatan manusia, walaupun banyak upaya telah dilakukan untuk mengotomatisasikan penerjemahan teks bahasa alami (terjemahan mesin, machine translation) atau menggunakan komputer sebagai alat bantu penerjemahan (penerjemahan berbantuan komputer, computer-assisted translation).
Mungkin kesalahpengertian utama mengenai penerjemahan adalah adanya suatu hubungan "kata-per-kata" yang sederhana antara dua bahasa apa pun, dan karena itu penerjemahan sering dianggap langsung dan merupakan suatu proses mekanis. Pada kenyataannya, perbedaan historis antar bahasa sering memberikan perbedaan ekspresi antar keduanya.
1.      Contoh :
• Pencuri telepon genggam itu akhirnya diserahkan kepada polisi setelah dihajar warga.
Analisis : Kata telepon genggam merupakan bentuk terjemahan. Dikatakan bentuk terjemahan karena kata tersebut didapat dari menerjemahkan kata hand phone (telepon tangan/genggam) yang merupakan kata aslinya.
8. Adaptasi
          Adalah menyesuaikan bentuk maupun lafalnya. Istilah “adaptasi” merupakan bahasa itu yang ber-/di adaptasi (oleh banyak faktor: lingkungan, geografis, dsb) sehingga menyebabkan variasi-variasi baik dalam bentuk atau pemakaiannya.
Contoh :
• Bahwa produk kreatif karya anak bangsa banyak yang unik.

Analisis : Kalimat tersebut menagndung dua kata yang mengalami adaptasi dari kata asing. Kata tersebut adalah produk yang berasal dari kata product. Selain kata tersebut adaptasi juga terjadi pada kata kreatif yang di adaptasi dari kata creative.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar